Kamis, 15 Maret 2018

Singkong Cryspi Bah Dadan Bagian dari Sosialisasi Rukun Ikhtiar

Singkong Cryspi Bah Dadan Bagian dari Sosialisasi Rukun Ikhtiar

Singkong Cryspi Bah Dadan merupakan produk olahan makanan berbahan dasar singkong yang di produksi oleh kami, kelompok ( Kader Ecovillage ) Desa Citapen Kec. Cihampelas Kab. Bandung Barat Jawa Barat.

Berawal dari Sebuah Pelatihan Olahan makanan yang di adakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat yang juga masih program GCB ( Gerakan Citarum BestarI )

Kita para kader Ecovillage se kabupaten bandung barat mendapat rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa barat untuk mengikuti pelatihan olahan makanan yang dengan bahan dasar singkong, untuk kita dari ecovillage Desa Citapen berjumlah dua orang, dan yang mengikuti pelatihan tersebut adalah ketua Ecovillage Desa Citapen dan juga saya sebagai admin.

Awal-awal kami anggap sesuatu yang membuang-buang waktu, sempat kita berpikir, apaan ngadain pelatihan mengolah singkong, paing juga kripik singkong yanag sudah ramai di pasaran dan ini pelatihan sangat membosankan.

Namun saat pelatihan telah di mulai, Kami merasakan ada hal yang berbeda, karena prosesnya yang beda, berawal dari pengupasan singkong itu sendiri kemudian di bersihkan (cuci) dengan air mengalir, di tiriskan trus di recah. Tahap berikutnya di haluskan dengan penggilingan daging dan di cetak menggunakan mesin pembuat sistik, di jemur dan di goreng.

Setelah di goreng kemudian di kasih bumbu perasa sebagai finishing, singkong yang sudah kita prediksi rasanya tidak beda dengan olahan singkong pada biasanya ternyata salah, singkong hasil olahan itu terasa sangat beda.

Kemudian setelah pulang dari pelatihan di sebuah hotel di Jl. Naripan Kota Bandung tersebut kita berdua bersepakat untuk melakukan sebuah tindak lanjut dari hasil pelatihan tersebut, Maka kami realisasikan produk kami yang di beri nama Bah Dadan.

Singkong Cryspi Bah Dadan Produksi Rukun Ikhtiar

Nama Bah Dadan kami ambil dari nama Ketua Kami yaitu Moch Ramdan Gunawan yang sering di panggil Dadan, Bah Dadan sendiri merupakan Ketua RW 01 Desa Citapen.

Untuk sementara ini produk Singkong Cryspi yang pasarkan belum tercantum Label Halal, tapi bukan berarti tidak Halal yah,... saat ini kami sedang dalam proses untuk mendapatkan produk Halal tersebut. Jangan hawatir dengan tingkat ke halalannya, karena kami senantiasa menjaga itu dari proses produksi yang kami lakukan dan tentunya ramah lingkungan, karena kami kader ecovillage yang cinta lingkungan.

Melalui produk singkong cryspi kami ini, sengaja mencantumkan facebook dan twitter kami pada kemasan agar para penikmat produk kami menemukan blog kami ini dan mendapatkan sedikit informasi yang sudah kami tuangkan dalam tulisan yang mengajak masyarakat agar senantiasa pro aktif dalam menjaga dan mencintai lingkungan.

Kami berharap niat kami bisa sampai ke masyarakat luas, agar program-progam pemerintah bisa tersebar luas terutama program dari ecovillage, dan sekarang program pemerintah yang sedang ramai di galakkan adalah program Citarum Bestari dan Citarum Harum.

Semoga Sungai Citarum yang citranya sebagai sungai terkotor di dunia ini bisa hilang, menjadi sungai terbersih di dunia, Amin. Tentunya program pemerintah tidak akan berjalan mulus jika tanpa adanya dukungan dari masyarakat.

Terima kasih telah berkunjung ke blog sederhana kami ini, semoga bisa bermanfaat buat para pembaca dan jangan lupa cicipin produk Singkong Cryspi kami ya.

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita.
 
 


Label: , ,

Rabu, 14 Juni 2017

Arif Sambas Berpesan di Peringatan Hari Air Sedunia

Arif Sambas Berpesan di Peringatan Hari Air Sedunia
Arif Sambas Saroni

Sebuah pesan yang di lontarkan dari Bapak Arif Sambas masih membekas di hati kita para ecovillager se kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat.

Pesan akan pentingnya menjaga air agar selalu ada pasokan air untuk anak cucu kita kelak.

Beliau berpesan pada tanggal 20 bulan Maret 2017 lalu saat merayakan hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret setiap tahunnya. dan inilah pesan beliau,...

Momentum peringatan hari air sdunia merupakan waktu yang tepat untuk mengajak masyarakat untuk selalu menghemat air,... Beliau khawatir ketersediaan air yang ada di bumi tidak cukup untuk kebutuhan pokok anak cucu kedepan.

Beliau berinisiatif melakukan penanaman pohon untuk mempertahankan air, karena pohon merupakan satu-satunya yang dapat mengikat air.

Penanaman pohon di laksanakan di daerah aliran sungai ( DAS Citarum ) tempat kami tinggal,... Keren bukan, pohon yang kami tanam waktu itu ada 8 jenis,... yaitu


  1. Sukun
  2. Cengkeh
  3. Kelapa
  4. Kawung
  5. Pete
  6. Nangka
  7. Durian dan,
  8. Alpukat


Adapun pesan beliau kepada masyarakat Jawa Barat untuk dan khususnya Ecovillager "mari kita jaga kelestarian dan ketersediaan air yang ada saat ini". Saya Khawatir jika tidak di jaga sejak saat ini, bukan lagi air yang kita simpan untuk anak cucu kita melainkan air mata, Karena selain konservasi air tersedia juga untuk nilai estetika dengan adanya penanaman pohon.



note : Arif Sambas Saroni merupakan Pembina ecovillager di Desa Citapen, Mekar Mukti dan Desa Cihampelas Kabupaten Bandung Barat.

Demikian postingan kami kali ini tentang pesan dari bapak Arif Sambas

Label: ,

Selasa, 13 Juni 2017

Ecovillage Citarum Kabupaten Bandung Barat Bertambah

Pada awal pembentukan Ecovillage Citarum Kabupaten Bandung Barat di tahun 2016 silam yang jumlahnya 7 desa sekarang bertambah delapan desa dari dua kecamatan yaitu kecamatan Batujajar dan Padalarang.
Ecovillage Citarum Kabupaten Bandung Barat Bertambah
source: metrotvnews.com

Yang mana masing masing kecamatan 4 desa,...

Setelah pembentukan desa berbudaya lingkungan ( ecovillage ) terbentuklah juga yang namanya FORKOM ( FORUM KOMUNIKASI ) dengan anggotanya merupakan para ketua dan PL ( Pembantu Lapangan ) se kecamatan Cihampelas, sekarang forkom ini sudah di ubah menjadi forkom se Kabupaten Bandung Barat.

Namun setelah pembentukan 8 desa baru ini, belum ada sebuah agenda akbar untuk bersilaturahmi dengan para ecovillager yang baru ini,...

bisa di bayangkan,... akan sangat meriah jika kegiatan akbar di laksanakan,...

Semoga dengan bertambahnya para ecovillage citarum ( Pejuang perubahan citarum ) ini dapat mempercepat agenda pemerintah untuk membebaskan sungai citarum dari sampah. Amiin,...

Label: ,

Senin, 05 September 2016

Capung Menjadi Bagian dari Sejarah Kejayaan Citarum

Capung atau sibar-sibar merupakan hewan yang sudah hidup sejak jaman purba dan bahkan sebelum adanya dinosaurus,... wow

Berdasarkan data yang berhasil kami rangkum bahwa spesies tertua berumur sekitar 320 juta tahun, yang mana fosil nya di temukan di Inggris di sebuah tambang batu. Berdasarkan penemuan fosil yang yakini sebagai spesimen capung ini sudah ada sejak 320 juta tahun yang lalu dan tentunya dengan ukuran yang sangat besar di bandingkan yang kita lihat saat ini.

Pada jaman sekarang ini capung sudah sangat jarang kita temukan, bahkan bisa di bilang hilang atau musnah sama sekali.

Yang jadi pertanyaan sekarang, kemana perginya serangga eksotis ini ?

Saat sungai citarum berada pada tingkat kejayaanya sekitar 20 tahun kebelakang,... serangga ini tidak terlalu sulit di temukan terutama di tempat kami tinggal yaitu Desa Citapen Kec. Cihampelas KBB.

Capung sekarang ini enggan berada di desa kami,...
capung menjadi bagian dari sejarah kejayaan citarum
Sumber Gambar : ferdhika-blog.blogspot.com

Lucunya banyak masyarakat sekitar yang tidak tahu menahu asal usul serangga nan elok rupawan di pandang mata ini. 20 tahun kebelakang setiap tahun ada musim capung atau dalam bahasa sunda " papatong " kami masih ingat saat kami masih kecil sering berlomba dengan teman-teman sepermainan untuk menangkap papatong ini dan menghitung siapa yang lebih banyak menangkap kemudian kami akan melepaskan kembali.

Mungkin teman-teman di kota lain belum pernah melihat jumlah capung sebanyak ini,... perlu di ketahui,.. jumlah capung bisa mencapai jutaan ekor kalau saat musim capung ini.

Tapi sayang saat ini pemandangan itu sudah tidak ada lagi dan mungkin hanya tinggal sejarah atau sebagai dongeng pengantar tidur anak cucu kita kelak,... miris

Mari kita sama-sama perbaiki gaya hidup kita untuk selalu menjaga lingkungan, dengan tidak membuang kotoran hewan ke sungai ( citarum ) tidak membuang sampah ke sungai ( citarum ) agar capung kembali menghiasi desa kita.

Apa Hubungannya Capung dengan Citarum ?

Mari kita pelajari sedikit tentang capung,
Sebagaimana kita ketahui bersama, Allah tidak menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan kesia-siaan. Dengan begitu capung pun di ciptakan dengan penuh manfaat terutama bagi kita manusia yang tinggal di alam ini. Manfaat capung antara lain sebagai bioindikator air bersih

Sebagai bioindikator air bersih
Seekor papatong dewasa akan menaruh telur-telurnya di permukaan air yang bersih dan kemudian telur akan menetas menjadi larva. Namun capung tidak hidup di air yang kotor sekotor citarum, mereka hidup di air yang bersih, air yang belum tercemar sama sekali. Capung tidak bisa bertahan hidup di air yang ekosistemnya terganggu. Jika di suatu tempat atau mata air berupa sungai atau danau dan terdapat banyak capung sudah pasti air tersebut masih sangat bersih yang belum terevolusi.

Sebagai Predator Nyamuk
Setelah telur-telur menetas menjadi larva, makanan larva ini adalah jentik-jentik nyamuk, ikan-ikan kecil, berudu dan lainnya. Bahkan capung ini menghabiskan hidupnya lebih lama di air karna jika sudah menjadi capung dewasa dia hanya memiliki waktu yang cukup singkat untuk terbang kesana kemari. Tapi jangan salah yah,.. dia terbang kesana-kemari bukan tidak ada gunanya,.. selain jentik nyamuk dia juga memakan ( predator ) nyamuk dewasa, lalat dan jenis serangga lainnya, dan capung di kenal sebagai predator ( serangga ) paling ganas di spesies serangga bahkan papatong ini di kenal sebagai " KANIBAL " serem kan ??

Sebagai Predator Hama Padi
Bahkan para petani pun akan sangat terbantu dengan adanya serangga ini, karna capung juga sebagai predator hama yang sering di sebut wereng yang sering merusak tanaman padi. Namun sekarang sudah tak lagi dapat di temukan karna habitatnya sudah di rusak oleh praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan

Mari kita sama-sama menjaga alam ini agar alam pun senantiasa menjaga kita,...

Di hati kecil penulis bertanya, apakah virus demam berdarah bisa muncul karna sudah hilangnya habitat capung sebagai predator alam pemangsa nyamuk ?

saya rasa pembaca lebih pintar dari kami jadi bisa menemukan jawabannya masing-masing,...

tolong di share ke media sosial yah,...

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita


Label:

Kamis, 23 Juni 2016

Memandang Air, Memandang Diri Sendiri

Pemahaman Mengenai Budaya tidak sempit hanya yang bersifat simbolik semata. Ada nilai yang paling mendalam, misalnya dalam kebudayaan masyarakat Jawa Barat dengan menghargai air secara mendalam dengan manamai tempat sebagai ci = cai = air ( misalnya Citarum, Ciburial, Citandui Ciliwung dan lain - lain ).

Untuk masyarakat kita perilaku menghargai air mendapat tempat yang khusus, bukan tanpa sebab melainkan karena memang sebelumnya sudah memiliki budaya yang cukup tinggi dengan menghargai air.

Penghargaan ini melahirkan tata kelola menjadi sebuah peradaban yang subur.

Bukan hanya sekadar ucapan dan isapan jempol, sampai saat ini masyarakat tradisional ( contohnya, Baduy dan Kanekes ) juga lebih jauh mengenal tata wilayah sehingga meminimalkan kerusakan alam.

Hal itu menyebabkan keseimbangan alam yang dapat menopang seluruh aspek kehidupan sehingga pemenuhan kebutuhan hidup dapat terus berlanjut.

Air Adalah Sumber Kehidupan Manusia


Memandang air ibarat melihat struktur urat di dalam bumi karena aliran air di bumi ini merupakan representasi jiwa dan raga pada manusia.

Jika struktur di alam membaik dan beres didalam penataannya, tentu menghasilkan manusia yang berkualitas dan memiliki ketahanan. Ketahanan itu, yakni ketahanan air, wilayah, budaya, energi, dan pangan.

Persoalan DAS Citarum hanya bagian dari satu permasalahan di dalam kerangka penataan air agar manjadi manusia berperadaban air, menjunjung tinggi sumber air.

Nilai dan ajaran yang menghargai air yang mengutamakan keselarasan antara antara manusia dan alam perlu di dorong sebagai modal sosial untuk mengikatkan kembali hubungan alam dan manusia. Keselarasan menggunakan kebudayaan lokal untuk mewujudkan  budaya yang menghargai air sebagai salah satu cara menyelesaikan persoalan dan penganan carut marutnya DAS ( Daerah Aliran Sungai ) Citarum.

Penganan secara partisipatif sesuai budaya masyarakat setempat harus di dorong kembali.

Komunitas dan Budaya Air di Jepang


Misalnya, masyarakat di Jepang dalam pengaturan air yang berbasis di daerah hulu, tengah dan hilir, justru instensif besar berasal dari daerah hilir untuk daerha hulu karena penerima manfaat paling besar ada di kawasan hilir.
air


Ikatan Komunitas dan budaya air sangat kuat sehingga Jepang mampu melakukan konservasi air, terhindar dari krisis air, dan mengangani bencana banjir.

Pelibatan peran masyarakat merupakan bentuk partisipasi pemeliharaan dan pemanfaatan air dalam suatu kawasan. Oleh karena itu, terjadi kesinambungan antara pemerintah, masyarakat yang tinggal kawasan sumber daya air, dan masyarakat secara luas.

Sekali lagi, cara pandang dan meperlakukan air sebagai sumber kehidupan harus berorientasi seperti memandang tubuh kita sendiri.

Wilayah kepala ( hulu ) adalah wilayah sakral dan di hormati, jika sudah demikian otomatis akan seimbang dengan bagian lainnya. Air itu berasal dari wilayah hulu, dalam konteks Citarum ialah wilayah Kabupaten Bandung dengan sumber mata airnyadari wilayah Gunung Wayang dan pegunungan lain yang mengitarinya sebagai wilayah tangkapan dan sumber air.

Untuk itu konservasi wilayah itu menjadi mutlak, terutama didukung orang yang bermukim di wilayah tengah dan hilir berdasarkan bentangan DAS.

dikutip dari : tulisan Hetti Restanti @tribunforum - Tribun Jabar 

Tolong di share ke Media Sosial ya,...

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Label: